Read one of my old essay--about nihilism in general--which I wrote back in 2009. It's quite a contemplative moment to reflect how I view life back then. Still, even at the time, the nihilism rooted on my strong belief on Logical Positivism. The nihilistic view worn out today, but my hold on to Logical Positivism grow stronger everyday...
Kitab tanpa Arti
Kau dan aku terbangun di pagi hari.. merasakan rasa haus yang sama, bau mulut yang sama, dan dorongan untuk kembali menyelimuti diri dengan kemalasan yang terlalu berat membebani seluruh neuron tubuh kita tiap hari.. kencing dan sarapan atau meracik kopi.. mengecup pipi istri atau menyerangnya dengan teguran kenapa tak membangunkanmu lebih pagi.. semuanya dikopi lagi dan lagi dalam mesin delusi bernama rutinitas.. apapun bentuk hidup yang kau pilih, hari berjalan nyaris serupa, berupaya mereplika masa lalu, mencoba menawar kepastian pada alunan kuanta kehidupan yang mengalir penuh spontanitas.. kadang penuh kejutan menyenangkan, kadang merenggut rasa tentram yang kau jalin kuat-kuat saat kau berkhayal tentang konsep kemapanan yang abadi.
Kau dan aku membuka mata dari lelap tidur, mengalihkan frekuensi otak dari rasa nyaman alam subsadar ke alam sadar. Mengeluh diam-diam tak kuasa menghadapi tantangan nasib dan takdir masa depan.. kau mencoba berlindung di balik puluhan sampul buku motivasi dan trik manajemen ala art of war-nya tsun zu.. aku berusaha menundukan kekhawatiran dengan tips meditasi dan belasan pdf sufisme atau fisika new age dengan bumbu zen dan buddhisme.. tapi kita berjalan di ranah yang sama bukan? Sama-sama terlalu kecut menghadapi betapa kerdilnya diri kita. Sampah yang mengambang di kenyataan yang terpupus dalam delusi keseharian. Foto diri yang buruk rupa, yang kelak termakan humus dan kelembaban mikroorganisme.. larut dalam mineral, pasir, dan kerikil keras bumi.
Bagiku dan bagimu, waktu adalah sama: materi dan energi yang beranjak. Waktu adalah rangkaian momentum yang memberikan bukti bahwa suatu objek berada, tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang lain. sebuah definisi yang menyesatkan kala kita dihadapkan dengan kebutuhan abnormal tentang keabadian. Tapi nyata itu derita, dan nyatanya, makna kita hanya berada di satu titik koordinat antara ruang dan waktu. Dalam ketakberdayaannya untuk melaju.. melompat dari satu koordinat ke koordinat berikutnya, membentuk grafik menakjubkan mengenai kisah hidupnya sendiri, yang bergerak naik dan turun layaknya sebuah plot dalam skenario film disusun. Dan kau dan aku adalah penulis skenario sekaligus aktor, hanya saja kita kehilangan kemampuan untuk menentukan alur, kehilangan hak pelakon untuk mengintip naskah cerita, tuntas dari awal hingga akhir waktu.. Prolog, Klimaks, anti klimaks, epilog, dan kesimpulan sederhana tentang kedipan mata..
Kau dan aku terkurung hasrat akan keabadian dan kebijaksanaan.. abadi dan bijaksana, bayaran yang menggiurkan untuk ketakberdayaan kita. Ditambah bumbu-bumbu menggiurkan tentang bidadari dan realitas super ideal. Di mana tawa dan sukaria membahana sepanjang waktu.. dyonisius menyajikan anggur paling nikmat ke dalam cawan milikmu dan ke dalam cawan milikku, membebaskan dahaga yang terbit dan hilang seketika.. bidadari dan dewa dewi melingkari tempat kita bertelekan di atas rumput empuk, hijau segar dengan sungai susu mengalir di atas tanah subur terbentang sepanjang cakrawala.. bukankah janji akan surga menggiurkan..? betapapun kita mengingkari ia hanya tumbuh dalam medan mitologis otak kita..
Kau dan aku hanya paket quanta, yang mengalir dalam gelombang waktu, membentuk realitas tunggal bernama alam semesta, yang entah hadir untuk apa.. ada di sana dengan sendirinya.. tak kurang, tak lebih, tak butuh alasan bertele-tele tentang makna adanya dirimu dan adanya diriku.. aku adalah sel yang tumbuh, kau adalah jaringan yang berkembang. Kita hadir dan terlahir dengan bekal nol besar, disusui dan disapih dan menabung ingatan tiap hari. Aku adalah gumpalan materi berupa daging dan darah.. kau adalah kumpulan energi bernama spiritualitas atau psyche atau entah apa.. berdiri di muka bumi berkompromi untuk senantiasa membentuk logika..
Kau dan aku adalah mereka, kita, kami, manusia.. dan kita hidup di titik biru yang pucat.. terdesak dalam energi misterius kegelapan.. sejarah hidup kita sama, jaringan organik kita serupa.. meramu ide dan emosi dalam kumpulan sel kenyal berwarna kelabu, kaya pembuluh darah dan neuroglia.. di sini kita membentuk ego, di sini kita menemukan emosi, mimpi, bahkan cinta.. dengan asupan cairan kental kaya oksigen dan energi, dan enzim kaya protein yang memberi sengatan hormonal untuk jalinan kisah yang lebih rumit dan penuh makna.. inilah kita, hasil evolusi menakjubkan dari satu unsur sederhana bernama hidrogen.. mengapung dalam ruang dan waktu, mengalami milyaran kejadian di antara heningnya ruang kedap udara.. mengantar kita di titik ini, untuk meneruskan sisa perjalanan, yang kelak terbang ringan tanpa beban kesadaran..
Jumat, Juni 08, 2018
Selasa, Maret 27, 2018
Sabtu, Maret 10, 2018
falalala
Human interaction is odd to say the least. Many times, I
find that the nature of troubles I encountered in the past deliver different
truth as I’m getting older. Some might say when you gain new wisdom, a.k.a. you
experience more in life, your layer of perspective multiply. It kinda make you want
to be more careful on passing judgment, because what you judge as foe today might
be your ally in the future… or something like that…
The best thing you can do is gain as much knowledge as can be, so
you can evaluate things much comprehensively. But you see, as your encyclopedia
of life getting thicker, you’re kinda develop a sense of skepticism even to
your own judgment. I dunno, maybe a wise person would have to go trough this
kind of phase, in which you spend too many time and energy assessing what’s
good and what’s right. A few week a go, I try to indulge myself in a new faith,
a faith on stoicism. It’s a practical philosophy indeed, and it’s oh-so-simple way
of assessment made me certain I can go through life swimmingly.
Everyone face disappointment in life. It’s just the nature
of being alive. Most of this disappointments stem from a conflicted
interaction with other human being. Stoicism teach me to not put the weight of
responsibility in others, but solely on myself. This premise leads to a
practical outlook I need to develop in life, such as learn to speak what I really
wanted clearly and unemotionally, so people can understand my expectations on them,
etc. It’s simple, and in theory, it will save me from many disappointment.
But still, human interaction is still weird. We make a lot
of rules in life that, in my opinion, will only halted our progression on getting better as an evolving creature. I still believe that we are a creature in process, and
our faith to tradition and our exhausted way of life will only lead us into
more conflict and disappointment. The world are getting unified, and with that
we need to have a new rule between us. At a microscopic scale, lots of my
disappointment rooted from an exhausted way of life, actually. Being the way I
am, I’m a minority, a very tiny portion of the population in my country, really.
This makes the practical usage of stoicism is urgent for me. Or perhaps, as
usual, I just put and extravagant reasoning as a defense mechanism, hehehe…
Kamis, Februari 15, 2018
history on trial: cleopatra
For a very long time people (: the society of patriarchy) had always been frightful of powerful women...
Minggu, Februari 11, 2018
so I just realize
So I guess when it comes to the philosophy of life, there's nothing compare to the combination between stoicism & existentialism to tackle the hardship of life. I mean between the creativity to choose everything life's given to you, and being responsibly act upon every choices you make, it has got to be a perfect combo.
I'm talking about the philosophy of life of course. For I think there's got to be a distinction between the practical aspects of daily life and our journey of finding the defining truth of everything. In the later case, I still believe in the scientific approach of course. Yeah.. just some practical contemplation I'd like to share here :)
Selasa, Februari 06, 2018
Drawing wisdom from Stoicism
Being a positivist-reductionist doesn't mean I can't draw wisdom from classical philosophy. On contrary I think today's socio-politic life is lacking the old-school understanding of morality and honor. I think it's urgent for us to learn from Marcus Aurelius, especially of his determination to do whats right and virtuous, despite his position of power (: which should allowed him to do anything he'd like).
.... basically he's a the Ned Stark of Hellenistic era (and the smart version one :D)..
Jumat, November 03, 2017
been a while
Been a while,
I haven't given many thought on anything happening in my life. Mostly because I was succumbed to the bustling workflow I've been facing lately. Yet the revenue I save up only manage to fulfilled the basic survival needs... yeah same old same old...
Been thinking about many cases of cognitive biases lately, and I reckon my life will be much easier to navigate if I can comprehend that principality in relation to my own life. Yeah, that's about all there is. I probably should start on doing a mural sketching now...
I haven't given many thought on anything happening in my life. Mostly because I was succumbed to the bustling workflow I've been facing lately. Yet the revenue I save up only manage to fulfilled the basic survival needs... yeah same old same old...
Been thinking about many cases of cognitive biases lately, and I reckon my life will be much easier to navigate if I can comprehend that principality in relation to my own life. Yeah, that's about all there is. I probably should start on doing a mural sketching now...
Langganan:
Postingan (Atom)