"The best possible antidote to jealousy is to learn to be authentically yourself, and to love YOURSELF as your authentic you. That sets up a dynamic in which others love you for who you TRULY are... which means they love the REAL you, and you become more or less "irreplaceable" in their lives... and so the need for jealousy simply doesn't exist anymore."-someone over the Net-
Thanks internet wisdom!
Kamis, Oktober 03, 2013
Sabtu, September 07, 2013
An Essay for the Exhibition of Laurent Millet Project: "Drawing Shadows to Earth". Exhibited from September 7th to 22nd 2013 @ Lawangwangi Creative space Jl. Dago Giri 99, Bandung, West Java, Indonesia
Laurent
Millet: Poetic Complexity
Menyimak karya Laurent Millet dalam pameran“Drawing Shadows to Earth” impresi yang mungkin muncul di benak pemirsa
adalah kesan dingin dan kesederhanaan visualnya. Namun jika pemirsa merujuk
pada judul karya, atau lebih jauh lagi merujuk pada statementsang seniman, maka akan ditemui kenyataan bahwa karya
Millet merupakan hasil dari jalinan gagasan yang sama sekali tidak sederhana. Menyimak
karya-karya fotografi Millet pada pamerantahun 2010:“The Last day of Immanuel Kant”,hadir foto dari
objek-objektridimensional yang tampak tak memiliki kaitan dengan judul pameran.Namun
jika seseorang dengan cermat mengkorelasikan judul dengan konstruk visual
karya, maka akan ditemukan jejak dari kerumitan gagasan yang dibangun Millet. Pameran
yang disebut di atas merupakan judul dari pseudo-biography
Immanuel Kant karya Thomas de Quincey.Kekaguman Millet akan karya literatur
tersebut, berjalinan dengan ketajaman riset dan kapasitas artistiknya, terwujud
dalam bentuk karya fotografiyang subtil, namun tetap menunjukkan sensibilitas
visual.
Kegemaran Millet dalam membangun karya yang
mereferensi berbagai sumber (sains, filsafat, kecenderungan seni para
pendahulunya, fiksi, dsb.) berkait erat dengan aspek kognitif dalam kesenian.Meskipun
secara awam karya seni sering direduksi sebagai objek sensual (mengandalkan
kemampuan sensing)semata, namun premis
tersebut mereduksi nilai seni yang sesungguhnya.Suatu objek seni memiliki
sistem pemaknaan yang berkait erat dengan aspek kognitif baik dari sisi seniman
(sebagai enconder makna) maupun apresiator (sebagai decoder makna).Karena pada
hakikatnya kegiatan “melihat” bukanlah sebuah aktivitas perseptual yang
dilakoni indera penglihatan saja. Lebih dari itu kegiatan “melihat” juga
melibatkan aspek konseptualisasi yang akan bergantung pada sistem pengalaman
dan pengetahuan si subjek itu sendiri. “Perception
doesn’t just provide data picked up by the senses; it also plays an active role
in conceptualization.”[i]Data
visual yang dicerap seorang pemirsa saat melihat sebuah karya seni dimaknai
bukan oleh mata sebagai indera penglihat, namun melalui mekanisme pemaknaan di
dalam otak.Kita memberi makna pada suatu objek dengan menarik data-data visual
dari pelbagai wilayah di otak yang sebelumnya kita konstruksikan sebagai suatu
konsepsi, skemata, skrip kognisi, dan bentuk lainnya.[ii]
Karenanya pembacaan suatu karya seni akan bergantung pada sistem pengetahuan si
seniman sekaligus penikmatnya.
Bisa dikatakan karya-karya Millet erat
kaitannya dengan variabel kognitif dalam seni rupa. Sebagai seorang encoder—pemroduksi kode-kode—Milletasyik
menghimpunlapisan demi lapisan pengetahuan
yang ia anggap penting saat membangun karyanya.Jika dibandingkan dengan
kecenderungan berkarya seniman Indonesia, jalur berkarya Millet bisa dibilang cukup
berbeda karena melibatkan aspek pengetahuan yang cukup rumit.Bahkan keputusan finalisasi
karya dalam bentuk foto pun merupakan salah satu pembangun sistem gagasan
Millet yang padat topik. Dalam kesempatan wawancara, Millet menyatakan bahwa ia
memang lebih memilih bekerja dengan citraan (foto) alih-alih menampilkan objek
ciptaannya secara langsung. Bagi Millet setiap objek yang ia buat memiliki potensi
citraanyang kuat dengan berbagai “fungsi” yang bisa ia manfaatkan. Fungsi dalam
hal ini adalah fungsi yang berkaitan dengan aspek visual dan physical property si objek, yang bisa dikaitkan
dengan objek-objek lain yang Millet anggap menarik dan penting.Dalam satu
kesempatan pameran berjudul Petites
Machines a Images misalnya, konfigurasi objek-objek yang Millet susun di
pantai berelasi secara optis dengan lanskap pantai. Ketika objek-objek ini ia
tembak dengan menggunakan kamera ber-eksposur tinggi, yang dihasilkan adalah
foto berefek dwi-dimensional yang tampak bagai kertas bertorehkan
coretan-coretan pena.
Berkaitan dengan penggunaan medium
fotografi, Millet memang tak menyasar visualisasi yang “extravaganza” seperti
yang dilakukan kebanyakan perupa kontemporer.Alih-alih meminjam simbol dan
citraan yang berasal dari “grand-narration”nya
seni kontemporer—seperti popular culture,
bahasa media/iklan, dan bentuk-bentuk komoditas—Millet justru lebih suka
menghasilkan citraan yang bernuansa (nuanced)
lamat-lamat (subtle).Ambil
contohkarya “Drawing Shadows to Earth”
dalam pameran inimisalnya. Karya foto yang menampakkan interaksi antara
objek-objek rektangular berwarna hitam dengan gunungan lumpur ini, merupakan
karya yang me-reaktivasi karya seniman earth-art
Sol Lewwit (:“The Burried Cube”), gaya
konstruktivist Casimir Malevich, dan kecenderungan
antidrawing-nyaRobert Morris. Dalam
hal ini Millet tengah berupayamentranskripsi gayatiga seniman besar tersebut,
dalam konteks, jenis material, dan dimensi waktu yang baru. Konteks yang hendak
dibangun Millet berkaitan dengan kondisi yang ia lihat di Indonesia, yakni
kompleksitas relasi antara aspek-aspekindustri, natural, dan kultural di negeri
ini. Berkaitan dengan olah citraan,“Drawing
Shadows to Earth” juga menghadirkan
permainan optis antara material lumpur dengan pelbagai objek rektangular hitam
yang hadir di dalamnya. Terkadang objek hitam tersebut tampak bagai lubang
geometris di tengah kubangan lumpur, terkadang bagai sebuah bangunan mini yang
tumbuh begitu saja dari dalam tanah, namun juga lebih sering hadir sebagai
objek absurd yang seolah “tak ada urusan” untuk hadir di tengah tumpukan lumpur.
Millet sendiri tak ingin menggiring persepsi pemirsa dalam pengertian yang tunggal.
Merujuk kata-katanya dalam wawancara ia menyatakan: “...these black boxes can be seen several ways: geometrical shape,
architecture, little caves, sculptures, industrial shape, spaces, or camera
obscuras.”
Karya seorang Laurent Millet memang merupakan
sebuah complex intersectionantara
berbagai aspek dari berbagai cabang ilmu.Karya objek berjudul “Black Maria” adalah salah satu
contohnya.Karya yang bisa disebut sebagai sebuah homage bagi Thomas Alva Edison ini, diinspirasi oleh studio sinema pertama
di dunia (bernama black Maria) dan
pabrik separator bijih besi—yang keduanya digagas si raja paten, Edison. Secara
perseptual pemirsa digiring Millet untuk menyaksikan bangkitnya Black Maria dan ore separator yang dibangun Edison di masa lalu.Millet membakar
struktur karyanya ini terlebih dahulu, untuk mencapai efek hitam legam seperti
halnya bangunan Black Maria-nya
Edison.“Black Maria” Millet terdiri
dari replika black Maria milik Edison yang ditempatkan saling bertolak belakang
dengan replika ore separator. Kedua
replika bangunan tersebutbertumpu pada satu platform yang sama. Struktur ini
direbahkan di atas timbunan pasir hitam seperti kapal terdampar.
Tak seperti kebanyakan karyanya yang secara
visual lebih banyak mempermainkan aspek formal, “Black Maria” tampak lebih representasional.Upaya replika, meskipun
tidak secara langsung, dan juga metode menghadirkan objek secara
langsung—alih-alih menampilkan citraan objek, menjadikan karya Millet ini
tampak berbeda dengan kecenderungannya selama ini.Namun aspek penyatuan
berbagai layer persoalan dalam berkarya masih sangat kentara terasa.Kekaguman Millet
terhadap sosok Edison, terhadap persoalan citraan, dan juga sorotan persoalan
industri, alam (lingkungan hidup), dan kultur manusia dalam proyeknya kali ini;
saling berkelindan dan tersimpul dalam “Black
Maria” yang dalam legam dan dimensinya tampak padat dan kokoh.
Karya berjudul “Untitled: Mount Merapi” bisa ditempatkan sebagai penanda bagi
aspek “lokasi” dalam keseluruhan proyek yang Millet garap kali ini. Millet menyatakan
bahwa iaingin membangun korelasi antaraCrazzanes
(lokasi di Perancis yang menarik minat Millet di proyek sebelumnya) dengan
lokasi yang ia temui di Indonesia. Merapi—atau tepatnya ladang lahar
Merapi—lebih kurang memang mirip dengan Crazzanes, di Perancis, yakni dalam keberadaannya
sebagai situs ekskavasi material tambang; jika Merapi menyediakan pasir, maka
Crazzanes memasok batu kapur. Satu lagi yang kemudian membuat Millet memilih
dua situs ini sebagai objek fasinasinya, yakni pertemuan antara aspek industri,
kultur, dan natural di kedua lokasi, telah menyisakan jejak bentuk yang dapat
dinikmati secara visual. Di ladang lahar Merapi, sisa kerukan penambang dan
tumpukan pasir telah membentuk topografi yang unik. Bentuk-bentuk seolah
ngarai, lembah, dan tebing; mengacaukan persepsi akan dimensi dan ruang bagi
para pemirsa karya Millet ini. Ke-10 karya dalam bentuk foto ini, dibuat Millet
dengan pendekatan dokumentatif, sehingga tampak apa adanya, jauh dari
kesanmencari efek estetis dan dramatis.
Berkaitan dengan ketertarikannya dalam olah
image dan dunia sinematografi, Millet juga tentunya terbiasa dengan medium
video. Pada karyanya “Crazzanes”
Millet masih mengolah gagasan akan kompleksitas interaksi antara alam,
industri, dan kebudayaan. Pada “Crazzanes”
Millet dengan cermat menggugah pemirsanya akan aspek displacement atau ketakhadiran. Pada video ini kita digiring
memasuki ceruk seolah-terowongan, yang terbentuk dari kegiatan ekskavasi batu
kapur.Ceruk-ceruk berbentuk geometris ini secara signifikan menandai hadirnya
aspek kultural (baca: campur tangan manusia) di sebuah situs yang aspek
naturalnya masih sangat mendominasi.Gua berbentuk rektangular seolah berjalin
kelindan dengan vegetasi yang dengan subur menyelimuti rongga-rongga tebing.Efek
displacement dan ketakhadiran muncul
saat kita menyadari bahwa rongga-rongga di tebing ini adalah material yang
dikeruk oleh industri untuk kepentingan kultural manusia.Millet mengambil idiom
carving dalam membangun sebuah patung
untuk menjelaskan ketertarikannya dalam mengobservasi Crazzanes. Logika membentuk dan membuang material yang tidak
diperlukan dalam memahat patung, ia sejajarkan juga dalam proses pembentukan
gua-gua di Crazzanes.
Pada karya videonya yang lain: “Equivalence”, titik berat Millet adalah pada fasinasinya
terhadap citraan dan berbagai isu dalam sains, fislsafat, dan dunia bahasa.
Dalam video ini, Millet menggabung
berbagaifootage yang ia himpun secara
pribadi dari internet atau sumber lainnya. Selain aspek citraan, Millet juga
menghimpun berbagai isu yang memang mencirikan karya-karyanya selama ini;
seperti misalnya penyebutan sosok dominan di dunia sains dan filsafat (dalam
hal ini Goethe); keterlibatan aspek visual-formal yang memberikan efek
perseptual tertentu bagi para pemirsanya (mekanika fluida dan gerak ombak
misalnya) ; juga diangkatnya isu-isu yang menjadi objek ketertarikannya (dalam
hal ini aspek bahasa, simbol, dan sains). Relasi yang dibangun dalam “Equivalence” di antaranya penghimpunan
imaji dan footage mengenai observasi
Goethe akan bentuk dan material awan; gerak lautan dan adegan ledakan saat
Perang Dunia 2;perang membongkar bahasa sandi antara Inggris dan Uboat milik
Jerman ;isu Alan Turing yang menemukan metode algoritma dalam pembangunan
komputer pertama di dunia; pengalaman Nasa dan bagaimana para ilmuwannya
berbicara mengenai objek riset mereka; berbagai adegan metereologis; dan juga
beberapa footage dari laboratorium
mekanika fluida di Perancis.
Kesemua karya yang dihadirkan dalam pameran
ini sedikit banyak memberi gambaran mengenai sosok Millet yang intelektual dan
berdedikasi terhadap perannya sebagai seorang seniman.Fitur-fitur ini inheren juga
dalam kehidupannya di luar berkesenian. Saat ia mengujungi India beberapa tahun
yang lalu misalnya. Kecenderungan intelektualnya untuk berpaling pada buku-buku
dan berbagai informasi saintifik menjadi pilihan untuk menjawab kegelisahannya saat
berinteraksi dengan kultur yang serba asing. Dengan berbekal ketakjuban pada
pusat observasi di Jantar Mantar, Jaipur; juga dengan panduan berupa buku De
Rerum Natura-nya Lucrezia, Millet berhasil menggubah karya yang bertitik berat
pada konsep movement manusia.
Sosok Laurent Millet memang bisa dikatakan sebagi
sosok yang idiosinkratik jika dibandingkan dengan seniman kontemporer
Indonesia.Keasyikannya dalam mencipta objek dengan kelindan makna yang rumit, tumbuh
dari upayanya untuk percaya diri terhadap karya yang dihasilkan. Dalam
kesempatan wawancara Millet menyatakan bahwa salah satu problem berkarya rupa
adalah ketakyakinan seniman pada objek ciptaannya, yang biasanya berakibat sang
seniman memberikan penjelasan terlampau jauh. Mungkin patologi seperti inilah
yang menjangkiti kebanyakan seniman muda saat ini.Penjelasan verbal yang overflowing sesungguhnya merupakan
langkah yang kurang strategis, karena akanmembatasi kemungkinan pembacaan/pemaknaan
yang lebih kaya.
“This is part of my confident, to say that my object
can be read in different layers… the object in itself is full of possibilities.
The more you said about it the more you restraining it. But you can’t also
leave it as it is…to say nothing… So its really difficult to find the balance…
we talked about it very often, me and my student, because sometimes we said too
much, so it killed the possibilities (of the artwork)…”[iii]
Kebiasaan Millet mengolah sekian banyak
subject-matter dari berbagai cabang pengetahuan mungkin menambah resiko kian
minimnya kemampuan baca pemirsanya.Namun hal inilah yang menantang Millet untuk
lebih percaya diri terhadap objek-objek ciptaannya.Lagi pula rumitnya sistem
gagasan yang dibangun Millet ternyata tak lantas membuat dirinya menjadi lumpuh
dalam mengolah sensualitas bentuk karya.Dalam kematangan pengalamannya, Millet
mampu menghasilkan karya dengan ragam formal yang appealing secara visual, meskipun konsepsi gagasannya cukup rumit
dengan multi-lapis persoalan.
Karya Millet yang rumit dengan nuansa
visual yang lamat-lamat ini, menjadikan karyanya bagai suatu kompleksitas yang
puitis (Poetic complexity).Upaya
untuk membaca dan memaknai karya-karyaMillet mungkin akan menjadi tantangan
tersendiri bagi publik seni Indonesia. Memahami metode berkarya Millet ibaratnya
sebuah kesempatan untuk memicu sofistikasi berpikir dan pembacaan yang lebih komprehensif
terhadap karya seni. Sebab selama ini publik seni Indonesia lebih sering
dimanjakan oleh karya-karya yang secara visual tampakobvious, extravaganza, dan over-ornate.Perlu
disadari keluasan pengetahuan, keterbiasaan meriset dan kegemaran menghimpun
informasi menjadi modal utama untuk membangun diskursus seni rupa yang lebih
canggih.
Asmudjo Jono Irianto
Dinni Tresnadewi Nf
Selasa, April 16, 2013
Jumat, April 12, 2013
Automatic Baby!
Yang melatari tulisan ringan ini adalah stumble across-nya
saya pada kenyataan akan adanya rivalitas di antara REM dan U2 (meskipun mungkin semata hadir di benak para
fansnya saja). Secara pribadi band yang saya sebut di awal
adalah musik utama dalam hidup saya, sedang yang kedua: I barely listen to
their music. Setelah saya coba dengar beberapa lagu besutan U2, saya yakin saya
tidak bisa membuat review yang unbiased. Tapi yang bisa saya pahami kemudian,
hanya sebuah ketersadaran mengenai kenapa saya amat menggemari musik Peter Buck
dan kawan-kawan. Karena kalaupun saya hendak mendengarkan U2 lebih jauh, saya
pikir saya tetap akan menjuarakan REM di atas mereka. Bukan karena saya temui musikalitas
REM ada di atas U2, namun
lebih karena musik produksi REM kompatibel dengan karakteristik manusia macam
saya.
REM is nothing but subtle and blurry, sedangkan U2 adalah
epitome dari kelugasan dan kepercayaan diri. Bono akan selalu tampil bersinar
di bawah spotlight, lantang menyanyikan keyakinannya; sedang Stipe akan selalu
menjadi Michael yang awkward dengan kostum aneh yang tak pernah berdamai dengan
status selebritisnya. Beberapa tahun yang lalu ketika menemukan video REM
pertama kali tampil dalam sebuah acara talkshow membawakan "So Central Rain", saya
merasa sangat terhubung dengan pribadi Stipe yang terduduk malu di belakang
David Lettermen. Sebelum lagu dimulai, Letterman malah mewawancarai Peter
Buck—the guitarist not the vocalist! Kentara sekali Michael Stipe sedang menghindari
perhatian publik tertuju pada dirinya.
U2 adalah band yang hebat dan musisi legendaris, no point
debating the fact. Tapi sebagai fans REM saya tak bisa membiarkan harga mereka tergerus
nama besar Band Irlandia tersebut. Jika harus dibandingkan, REM memang quirky
ketimbang U2 yang keren dan outspoken. Tapi mungkin di situlah REM mengambil hati
para fansnya. Akan sangat mudah mengkodifikasi lirik-lirik lagu garapan Bono,
tapi tak seorang pun bisa menangkap dengan pasti maksud Stipe saat dia menggumamkan
bait demi bait lirik yang ia susun. Siapa sih yang bisa mengartikan “gardening
at night” atau kenapa “aluminum tastes like fear”? Stipe membongkar sistem
makna tiap kata seenak perutnya, tapi di situlah saya rasa kekuatan REM; kita
para apresiator bebas memaknai lirik mereka yang “hyper-ambiguous.”
Di saat REM menyuarakan
keyakinan politik mereka, ambiguity never left their music. Salah satu album
favorit saya, Document, adalah album yang
cukup sarat isu politik, namun masih tersampaikan dengan gaya mereka yang kabur
dan kaya idiom. Favorit saya "Disturbance at the Heron House", merupakan pengejawantahan benak Michael Stipe saat ia
mengkorelasikan fakta dan fiksi antara pemerintahan Ronald Reagan dengan kisah
garapan George Orwell: "Animal Farm." Tak
seorang pun yang dapat mengambil kesimpulan ini jika tak bertanya langsung pada
si empu lagu. Coba dengar saja: ”The gathering of grunts and greens. Cogs and
grunts and hirelings. A meeting of a mean idea to hold.” Bandingkan dengan Seconds garapan U2 yang sangat eksplisit
bercerita tentang perang nuklir di era Reagan: “USSR, GDR, London, New York,
Peking. It's the puppets, it's the puppets. Who pull the strings.”
Tapi di luar kecenderungan mereka dalam bergaya di lirik
lagu, musik tetaplah musik yang dinilai oleh telinga bukan oleh daya nalar kita.
U2 tetaplah musisi hebat. Tak bisa dipungkiri musik mereka diterima telinga
dengan sangat baik. Saya yang awam teknik musik, mengandalkan sense dalam
menilai mana musik baik dan tidak; dan harmonisasi nada yang dibawakan U2 dinilai telinga saya sebagai produk band maestro.
Jika dibandingkan dengan mereka, REM terdengar inkonsisten. Selalu ada lonjakan
nada atau belokan bait yang tak disangka-sangka dalam lagu-lagu REM. Tapi, kembali,
justru quirkiness semacam inilah yang membuat REM saya cintai sepenuh hati. Mereka
bereksperimen dengan berbagai alat musik yang dianggap tabu oleh Rock pada zamannya (mandolin
dalam Losing my Religion, misalnya). Mungkin kejutan-kejutan semacam inilah
yang menjadikan REM berbeda.
U2 boleh jadi mencetak jauh lebih banyak rekor penjualan dan
bersuara dalam politik lebih lantang dibanding band kampung asal Georgia AS,
ini, tapi tak seorang pun yang bisa menafikan kenyataan bahwa REM-lah yang
bertanggungjawab akan munculnya frasa “alternative
rock,” dan menjadikannya terma musik yang kanon.
Jika hendak dianalogikan “pertarungan” antara dua band
legenda ini layaknya rivalitas antara Star Wars dan Star Trek. Kesemua produk
kultur ini sama-sama memiliki fandom yang tidak kecil, dan konon seseorang
tidak bisa menyukai Star Wars sekaligus menyukai Star Trek. Begitupun dengan
band yang sedang kita obrolkan ini: you either an REM fans or a U2 fans. U2 yang
lugas dan dramatis mewakili Star Wars dan REM yang rumit dan artistik mewakili
Star Trek.
Tapi semua persaingan ini cuma meletup dalam benak kita,
para fans. U2 dan REM adalah band anggun yang tak peduli dengan kompetisi
penjualan rekaman atau persaingan mengenai seberapa penting isu yang mereka
usung dalam musik. Sama seperti judul tulisan ini, keduanya bahkan pernah
tampil bersama dalam sebuah supergroup: Automatic Baby. Ah ya, kita para fans hanyalah
anak-anak kecil yang bergelayut manja pada patron kita. Mati-matian membela
nama baik mereka dalam persaingan yang tak pernah hadir di kenyataan…
Minggu, Maret 24, 2013
my plan with the site
I've been using this site as a personal ramblings for more than 4 years now. I decided now it's time to use this humble space to publish my humble comic. If you, kind guests and readers, had time, please leave comments, critics, and suggestions ;)
Langganan:
Postingan (Atom)