Jumat, April 12, 2013

Automatic Baby!

Yang melatari tulisan ringan ini adalah stumble across-nya saya pada kenyataan akan adanya rivalitas di antara REM dan U2 (meskipun mungkin semata hadir di benak para fansnya saja). Secara pribadi band yang saya sebut di awal adalah musik utama dalam hidup saya, sedang yang kedua: I barely listen to their music. Setelah saya coba dengar beberapa lagu besutan U2, saya yakin saya tidak bisa membuat review yang unbiased. Tapi yang bisa saya pahami kemudian, hanya sebuah ketersadaran mengenai kenapa saya amat menggemari musik Peter Buck dan kawan-kawan. Karena kalaupun saya hendak mendengarkan U2 lebih jauh, saya pikir saya tetap akan menjuarakan REM di atas mereka. Bukan karena saya temui musikalitas REM ada di atas U2, namun lebih karena musik produksi REM kompatibel dengan karakteristik manusia macam saya.

REM is nothing but subtle and blurry, sedangkan U2 adalah epitome dari kelugasan dan kepercayaan diri. Bono akan selalu tampil bersinar di bawah spotlight, lantang menyanyikan keyakinannya; sedang Stipe akan selalu menjadi Michael yang awkward dengan kostum aneh yang tak pernah berdamai dengan status selebritisnya. Beberapa tahun yang lalu ketika menemukan video REM pertama kali tampil dalam sebuah acara talkshow membawakan "So Central Rain", saya merasa sangat terhubung dengan pribadi Stipe yang terduduk malu di belakang David Lettermen. Sebelum lagu dimulai, Letterman malah mewawancarai Peter Buck—the guitarist not the vocalist! Kentara sekali Michael Stipe sedang menghindari perhatian publik tertuju pada dirinya.

U2 adalah band yang hebat dan musisi legendaris, no point debating the fact. Tapi sebagai fans REM saya tak bisa membiarkan harga mereka tergerus nama besar Band Irlandia tersebut. Jika harus dibandingkan, REM memang quirky ketimbang U2 yang keren dan outspoken. Tapi mungkin di situlah REM mengambil hati para fansnya. Akan sangat mudah mengkodifikasi lirik-lirik lagu garapan Bono, tapi tak seorang pun bisa menangkap dengan pasti maksud Stipe saat dia menggumamkan bait demi bait lirik yang ia susun. Siapa sih yang bisa mengartikan “gardening at night” atau kenapa “aluminum tastes like fear”? Stipe membongkar sistem makna tiap kata seenak perutnya, tapi di situlah saya rasa kekuatan REM; kita para apresiator bebas memaknai lirik mereka yang “hyper-ambiguous.” 

Di saat REM menyuarakan keyakinan politik mereka, ambiguity never left their music. Salah satu album favorit saya, Document, adalah album yang cukup sarat isu politik, namun masih tersampaikan dengan gaya mereka yang kabur dan kaya idiom. Favorit saya "Disturbance at the Heron House", merupakan pengejawantahan benak Michael Stipe saat ia mengkorelasikan fakta dan fiksi antara pemerintahan Ronald Reagan dengan kisah garapan George Orwell: "Animal Farm." Tak seorang pun yang dapat mengambil kesimpulan ini jika tak bertanya langsung pada si empu lagu. Coba dengar saja: ”The gathering of grunts and greens. Cogs and grunts and hirelings. A meeting of a mean idea to hold.” Bandingkan dengan Seconds garapan U2 yang sangat eksplisit bercerita tentang perang nuklir di era Reagan: “USSR, GDR, London, New York, Peking. It's the puppets, it's the puppets. Who pull the strings.”

Tapi di luar kecenderungan mereka dalam bergaya di lirik lagu, musik tetaplah musik yang dinilai oleh telinga bukan oleh daya nalar kita. U2 tetaplah musisi hebat. Tak bisa dipungkiri musik mereka diterima telinga dengan sangat baik. Saya yang awam teknik musik, mengandalkan sense dalam menilai mana musik baik dan tidak; dan harmonisasi nada yang dibawakan U2  dinilai telinga saya sebagai produk band maestro. Jika dibandingkan dengan mereka, REM terdengar inkonsisten. Selalu ada lonjakan nada atau belokan bait yang tak disangka-sangka dalam lagu-lagu REM. Tapi, kembali, justru quirkiness semacam inilah yang membuat REM saya cintai sepenuh hati. Mereka bereksperimen dengan berbagai alat musik yang  dianggap tabu oleh Rock pada zamannya (mandolin dalam Losing my Religion, misalnya). Mungkin kejutan-kejutan semacam inilah yang menjadikan REM berbeda. 

U2 boleh jadi mencetak jauh lebih banyak rekor penjualan dan bersuara dalam politik lebih lantang dibanding band kampung asal Georgia AS, ini, tapi tak seorang pun yang bisa menafikan kenyataan bahwa REM-lah yang bertanggungjawab akan munculnya frasa  “alternative rock,” dan menjadikannya terma musik yang kanon.
Jika hendak dianalogikan “pertarungan” antara dua band legenda ini layaknya rivalitas antara Star Wars dan Star Trek. Kesemua produk kultur ini sama-sama memiliki fandom yang tidak kecil, dan konon seseorang tidak bisa menyukai Star Wars sekaligus menyukai Star Trek. Begitupun dengan band yang sedang kita obrolkan ini: you either an REM fans or a U2 fans. U2 yang lugas dan dramatis mewakili Star Wars dan REM yang rumit dan artistik mewakili Star Trek. 

Tapi semua persaingan ini cuma meletup dalam benak kita, para fans. U2 dan REM adalah band anggun yang tak peduli dengan kompetisi penjualan rekaman atau persaingan mengenai seberapa penting isu yang mereka usung dalam musik. Sama seperti judul tulisan ini, keduanya bahkan pernah tampil bersama dalam sebuah supergroup: Automatic Baby. Ah ya, kita para fans hanyalah anak-anak kecil yang bergelayut manja pada patron kita. Mati-matian membela nama baik mereka dalam persaingan yang tak pernah hadir di kenyataan…