Minggu, Maret 20, 2016

being an existentialist-procrastinator

link to an awesome TEDtalk

I've been struggling heavily with this crippling bad habit. As evidenced by the fact that I'm writing this, instead of keep working on a task with a very tight deadline. Just this morning I got the email with that link to Tim Urban's TED talk, and well, can't help but intensely relate to it. Tim points out a very interesting statement, that all of us are basically procrastinators. At some degree, I agree. But there are some critical differences between us the very chronic procrastinators and those of normal spectrum of the human population. And he is right, the most significant is the presence of that abominable creature, namely the instant gratification monkey. We the chronic procrastinators gave up far too easily and too often to that damnable abstract primate. I guess it has something to do with the way we evolved. As simple animals, we used to fulfill our current needs, the necessity in the present, and doesn't take precaution to whatever would happen in the future or learn from whatever happened in the past. The urgently to do is the easiest, pleasurable thing we could do now, at this very moment. Just like a lion would hunt when hungry, sleep when sleepy, mate when the urge happens to come by; we the chronic procrastinators would procrastinate when the urge to delay come by. And the urge come by each and every time...

But you know, I've met a fellow chronic procrastinators in the past. And some of them are quite successful. I guess we need a thorough scrutiny to determine what went wrong. Even if I may succeeded to pinpoint that the main culprit for the failing of my life is procrastination, I gotta realize that a mishap always occurs not because of one single reason. One element that cause a series of unfortunate events, always had helps from other factors too. Erm, let's see, perhaps the specific architecture of my life (culturally,financially, psychologically), which resulted in a Me who's having a serious case of insecurities and self confidence, when coupled with a bad habit of crazy-procrastination, would resulted in a destructive-detrimental chaos which is my life :P

I've given up the idea of brilliance as an alpha part of myself. Because, one, who need a self aware-self proclaimed genius in the age of many "genius" such as today; and two, this illusion of having a good image of yourself is mostly delusional and will only get you lost in seeing the reality (the true and genuine one); and third, it only give me a temporal confidence, so it's practically useless; and fourth, it just won't take me anywhere.

I gotta say Gary Cox  is right. Being an existentialist is important nowadays. And being one is not a matter of encompassing yourself in the work of Sartre, Nietzsche, Heidegger, or any of their likes. It's about getting real, get a grip, and stop making excuses.

Eheh, I guess it's time for me to get some drawing done....

Jumat, Maret 18, 2016


Just got off the phone with a long time friend. I guess you couldn't take things for granted after being in a friendship for 15 years :p. We chat a lot about the meaning of being successful and of boys (childish men) and other stuff I couldn't recall now. I called her after finding out that I was treated quite unfairly by a guy I dated a few weeks a go. It's funny how things could escalated from a friendly banter between a patient and a doctor to a case of emasculating someone's self esteem. Erm, emasculating one's self esteem seems too much as a statement actually, but the thing is, it's really depressing to find how people could change facades just to get what they want. Here how the story goes...I met this doctor a few months a go. He is cute enough and I feel like: what the hell if you somehow have hots for me, let's just try and do this. After only a few harmless session of flirty texting and one date, he asked me to spend the night with him. I don't get queasy hearing this, but what the hell... can you at least had the courtesy to woo me a bit longer, or just tell me your true intention from the beginning. And then he completely stopped texting me after I declined, which is okay, since I really don't value this thing as something worth thinking of or spend energy for... Then I just founds out this morning, he got married to a very conservative looking woman, in a conservative marriage, along with their conservative-looking family, and exhibits photos full of religious captions.
what. the. hell...
I could be a bit hypocrite, mind you, but the scale of this hypocrisy is really something... but yeah, it's not a life changing experience whatsoever, just something worth giggling over. 

Senin, Maret 14, 2016


You are the brightest sky I have ever encountered
The lapis lazuli of my life…
Rare and luxurious,
Sacred yet flirtatious…

I would gluttonously drink your very being,
but the fright of having over-consumed,
had always been sturdily terrorizing…
I’d sip you bit by bit..
but the dread of having you hazing away,
had always been unsettlingly settled…

While I was with another,
you are the vestiges that always manage to be present,
blocking my view to be impressed by others..

It is troubling,
That in the rarity of our crossroads,
you still creeping around my existence..
giving me doubts to depart and move ahead…

You just simply enthralled me,
harder than I thought I was…

Sabtu, Maret 12, 2016

Curatorial Text for Carine Leroy-Braham's solo exhibition

I (we) wrote it a few months a go and thought it wasn't going to be published, but the gallery apparently feel the need to get it out in the public anyway. So when they contacted me in the late February for the latest edited version of the essay, naturally I "yayed" :).
The initial exhibition was held somewhere around September, last year.

Embodied: Sublimitas Eros dan Tanathos Carine Leroy-Braham

             “Women and the Universal! Very interesting; one kind of giggles because women have always been confined to the realm of the Personal.” (Tring T. Minh-Ha)

Persoalan antara yang alami dan yang buatan (nature versus culture/nurture) merupakan oposisi biner yang terus diperdebatkan sepanjang peradaban manusia. Apakah hal terpokok dan hakiki bagi manusia adalah segala yang terbentuk apa adanya secara alami? Atau sebaliknya menjadi kultural dan membentuk formulasi hidup yang teratur dan beradab merupakan hakikat terdasar menjadi manusia? Sebagai animal rationabile (binatang yang menggunakan rasio), manusia mampu melampaui properti animalistiknya dan memberdayakan dirinya menjadi spesies paling canggih di muka bumi. Namun seorang manusia tetap memiliki atribusi hewani, yang memiliki  mekanisme tersendiri tanpa bisa dikendalikan sepenuhnya oleh rationale. Atribusi ini muncul dalam bentuk hasrat; suatu dorongan yang integral dalam diri setiap manusia, yang akan selalu ada dan mempengaruhi setiap pilihan hidup seseorang sejak ia lahir hingga tiba saat kematiannya.

Hasrat manusia termanifestasikan dalam ragam rupa; hasrat untuk berkuasa, hasrat untuk menjadi kaya raya, hasrat untuk mempengaruhi orang lain; dst. Kesemua bentuk hasrat ini berpangkal dari hasrat yang paling sederhana, yakni untuk merasakan kenikmatan (pleasure) dan menjauhi rasa sakit (pain) atau ketidaknyamanan (displeasure). Sigmund Freud—sebagai figur pionir yang berhasil mengupas  konsepsi hasrat ini ke tataran signifikan—lebih jauh lagi meyakini bahwa hasrat-hasrat manusia ini secara mendasar berpangkal dari dorongan seksual yang inheren berada pada diri setiap manusia. Suatu properti hewani yang cara kerjanya berjalan secara otonom, lepas dari kesadaran manusia sebagai mahluk rasional.

Menurut Freud, sepanjang sejarah peradabannya; hasrat, insting, atau dorongan seksual ini direpresi (ditekan) oleh manusia karena dianggap sebagai agen kekacauan (chaos).  Lebih jauh lagi Freud bertukas sejarah hidup manusia adalah sejarah dari represi mereka sendiri[i]. Peradaban dapat terlaksana karena upaya manusia untuk menekan kesemua bentuk dorongan dan hasrat yang akan saling bentur antar kepentingan tiap individu jika dibiarkan terpenuhi. Dalam essaynya yang cukup menantang “Beyond the Pleasure Principle”, Freud menjelaskan bahwa dalam rangka preservasi diri, manusia mengembangkan semacam pertahanan diri  yang disebut dengan reality principle untuk menekan hasrat (desire) agar tak menempatkan si manusia dalam kondisi terancam keberadaannya. Pada akhirnya keduanya bekerja dalam mekanisme saling lingkar; dengan reality principle berusaha menunda pemenuhan hasrat sehingga menjadi instrumen perepresi gerak kehidupan manusia, dan di sisi lain hasrat yang bergerak menuntut pemenuhan (gratifikasi) secara menerus. Suatu pergulatan abadi antara keteraturan (cosmos) dan keliaran (chaos).

Sepanjang sejarah peradaban manusia, berbagai bentuk orde  dan rambu-rambu dibentuk untuk membangun tatanan peradaban yang teratur. Agama, mitos, sains, dan hukum menjadi instrumen yang memastikan agar setiap individu dalam masyarakat bertingkah laku sesuai dengan orde dan aturan. Obsesi manusia terhadap keteraturan mengantar manusia ke dalam keberpihakan tak proporsional terhadap aspek Logos dibandingkan Eros[1]. Logos—yang dalam hal ini diartikan secara sederhana sebagai rasio, logika, akal, daya tahan dan determinasi—dianggap sebagai properti dasar dalam proyek peradaban umat manusia. Eros—yang merupakan simbolisasi kebebasan, kreativitas, vitalitas dan juga fatalitas—sebagai kontraposisi dari Logos, sering dianggap sebagai natur manusia yang liar, sulit dikontrol, feminin dan asing; yang karenanya perlu ditekan tumbuh geraknya. Ambil contoh tokoh mitologi Yunani Orpheus, Narcissus, dan Dyonisius yang merupakan figur-figur pemboyong konsep Eros,mereka tak pernah dianggap sebagai simbol kebudayaan yang kanonikal dan cenderung dibuat antipatik.  Sebaliknya Prometheus, Hercules dan Odisseus yang menyimbolkan akal (tipu daya), pengorbanan dan rasa sakit yang abadi justru menjadi tokoh heroik yang dipuja.

Pertanyaan mengenai hasrat sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia, agaknya juga menarik perhatian seorang Carine Leroy-Braham.  Melalui pameran “Embodied” seniman asal Perancis ini mengejawantahkan dua dorongan dasar manusia yang saling beroposisi dalam konfigurasi yang justru harmonis dan saling komplementer. Dengan mengoperasikan simbol phalus dan tengkorak, Carine menyajikan konsepsi Eros dan Thanatos dalam rangkaian karya yang meskipun berkesan paradoks namun tetap terintegrasi secara harmonis. Imaji-imaji tengkorak yang sarat dengan aura kematian dan keberakhiran, berpadu dengan berbagai ornamen-ornamen berwarna penuh vitalitas. Monolith phalus yang menjulang penuh keangkuhan berpadu dengan tengkorak-tengkorak putih yang feminin dan anggun melingkar mengelilingi simbol maskulinitas tersebut.

Konsep Eros dan Tanathos sendiri yang dikembangkan oleh Freud ini agaknya disadari Carine sebagai potensi simbolik—yang selain dapat tergali  di tataran gagasan—juga dapat termanifestasikan secara artistik dalam bentuk karya dari pelbagai medium dan material. Bisa ditengok dari bagaimana Carine menggunakan teratai sebagai simbol phalus. Sebagaimana telah dipahami secara umum, phalus merupakan perangkat biologis utama yang berperan aktif dalam suatu relasi kultural yang kita kenal sebagai romance atau eros. Eros sendiri dalam pemahaman Freudian, diartikan sebagai insting untuk bertahan hidup (survival); yang kerap termanifestasikan dalam bentuk  hasrat untuk mencari kebahagian, kesenangan, cinta dan seksualitas.  Di lain pihak Thanatos yang merupakan insting/hasrat pada kematian dan kondisi statis, kerap ditunjukkan oleh sikap putus asa dan penghancuran diri (self destruction)—yang konon termanifestasikan pula dalam bentuk agresi, perusakan,dan hasrat berkuasa; disajikan carine melalui simbol  tengkorak.  

Berbeda dengan logika oposisi antara Eros dan logos versi Carl Gustav Jung, baik Eros maupun tanathos dari sudut pandang Freudian dianggap sebagai properti dasar manusia yang sepanjang sejarah peradaban manusia perlu direpresi karena dianggap sebagai agen chaos. Namun melalui “Embodied”, Carine tampak gamblang menyerukan suara yang berbeda. Tengok saja karya-karya lukis Carine yang menyiratkan ekspresivitas dan vitalitas—seolah mengolok pola-pola opresi kebudayaan kita selama  ini terhadap konsep seksualitas dan kematian. Di lain pihak karya tridimensional dan instalasi milik Carine juga cukup kentara menyuarakan opininya yang sarat dengan aura perayaan terhadap seksualitas dan kematian.

Sikap yang diambil Carine dapat dikatakan selaras dengan apa yang diyakini Herbert Marcuse. Pemikir asal Jerman ini mengutarakan kritiknya terhadap konsep Eros dan Tanathos Freudian, dengan menyatakan bahwa kedua dorongan manusiawi ini justru memiliki potensi untuk menyeimbangkan tatanan masyarakat industrial yang jenuh dalam pola mekanistis kapitalisme.  Marcuse meyakini bahwa Eros dapat disublimasi dari hasrat seksualitas yang senantiasa menuntut gratifikasi ala hewani, menjadi suatu hasrat yang dibarengi rasionalitas. Jika sebelumnya rasio menjadi instrumen pembangun peradaban yang mekanis dan robotik, dan bahkan bertugas sebagai opressor Eros, maka melalui keterbukaan dan pemahaman lebih jauh terhadap seksualitas itu sendiri, maka manusia akan mampu berpindah pada tataran rasionalitas yang lebih sublim terhadap seksualitas mereka, sehingga Eros tak perlu lagi direpresi.
“Under non-repressive conditions,sexuality tends to ‘grow into’ Eros—that is to say, toward self-sublimation in lasting and expanding relations (including work relations) which serve to intensify and enlarge instinctual gratification. Eros strive for ‘eternalizing’ itself in permanent order.”[ii]
“Eros redefines reason on his own terms. Reasonable is what sustains the order of gratification.”[iii]

Menyimak karya-karya Carine maka tersirat opini serupa akan proyek sublimasi Eros ala Marcuse. Salah satu karya Carine dalam pameran “Embodied” ini adalah karya monolith tiga dimensi berbentuk phalus yang sengaja ia hadirkan dalam warna perak. Akan menjadi jebakan yang sangat mudah menggiring asumsi pemirsa pameran, saat melihat karya ini sebagai penanda kritikal Carine terhadap supremasi maskulinitas terhadap femininitas. Namun nyatanya Carine justru justru menempatkan karya ini sebagai objek hasrat (desire) bagi dirinya sendiri secara personal. Sapuan perak yang menutupi keseluruhan tubuh karya, dibarengi dengan pemosisian karya di atas pedestal batu semakin menempatkan phalus sebagai objek yang sangat berharga di mata Carine. Phalus di sini kemudian tersublimasi sebagai implementasi penelusuran estetis seorang Carine Leroy-Braham, alih-alih dimaknai semata instrumen biologis yang harus direpresi mekanisme gratifikasinya.

Menyelami lebih dalam konsep gratifikasi  Eros. Menurut Herbert Marcuse, prinsip gratifikasi berkait erat dangan “prinsip hasrat” (pleasure principle). Saat properti-properti Eros (hasrat seksualitas) harus dipenuhi, maka rintangan terbesarnya adalah keberadaan waktu dan logika keberakhiran. Karena timelesness merupakan pleasure yang paling ideal[iv], maka keberadaan kematian menjadi rintangan bagi gratifikasi Eros. Meskipun melalui reality principal, Eros terbelenggu mekanismenya secara kultural, namun secara tak terhindarkan ia tak bisa berkelit dari prinsip kematian/keberakhiran. Oleh karena itu eksistensi Tanathos (: dorongan menuju kematian dan keberakhiran) justru menyumbangkan rasio tersendiri bagi proses sublimasi Eros,yakni kesadaran bahwa segala sesuatu memiliki akhir. Dengan demikian saat manusia menyadari bahwa Eros adalah konsep yang impermanen, dan keberterimaan terhadap aspek Tanathos sebagai bagian dari kehidupan, Manusia justru terbebaskan dari belenggu represi, karena ia dapat menghadapi dorongan Eros dalam kerangka yang penuh kesadaran akan impermanensi.

Keberkaitan antara Eros dan Tanathos ini tampaknya disadari pula oleh Carine. Karenanya citra-citra Tanathos milik Carine yang terwakili oleh simbol tengkorak, tak lantas tampil polos  apa adanya sebagai tengkorak semata. Tengkorak yang hadir baik di atas kanvas maupun yang tampil dalam bentuk karya tiga dimensi milik Carine senantiasa dihiasi (adorned) dengan pernik-pernik seperti bunga teratai ataupun headdress yang penuh warna. Seri karya Adorned Vanities misalnya yang menampilkan lukisan-lukisan tengkorak dengan dihiasi berbagai bentuk headdress tradisional Indonesia dan mahkota bunga teratai, seolah menunjukkan apresiasi Carine terhadap konsep impermanensi. Jika kita selami lebih dalam, kematian dan perpisahan memang justru merupakan konsep yang semestinya mendorong kita untuk lebih menghargai keterbatasan hidup. Kematian pada karya Carine bukanlah duka yang disesali kedatangannya, namun justru bagian kehidupan yang dirayakan. Sebuah parting gift akan singkatnya dan berharganya setiap bentuk kehidupan.

Sublimasi terhadap Thanatos sesungguhnya sering kita temui dalam keseharian, seperti misalnya pada requiem (musik kematian), ritual pemakaman  ataupun puisi-puisi bertemakan kematian dan perpisahan. Tanathos versi Carine hadir dalam kontras antara simbol tengkorak yang ia hadirkan secara puitis dan feminin. Karya instalasi Carine yang menampilkan tiga boks kaca berisi tengkorak besar berwarna emas misalnya. Karya yang menghadirkan logika sekuens ini, dengan gamblang berkisah mengenai bagaimana kematian mengabsorpsi kehidupan: dari berada menjadi tiada. Boks pertama menunjukkan satu tengkorak berhiaskan bunga lotus di atas kepalanya tampak terduduk tegak di atas permukaan emas. Permukaan emas yang bagai lumpur hisap ini perlahan menenggelamkan tengkorak, seperti yang bisa disimak pada kotak kaca kedua, saat keutuhan tengkorak dimakan oleh ketertenggelaman dirinya dalam “lumpur” emas di bawahnya. Di kotak ketiga kita melihat bunga teratai yang semula hinggap di atas tengkorak mengambang di atas permukaan lumpur emas. Agaknya Carine menyampaikan suatu pesan bahwa kematian justru memberikan kesempatan untuk kelahiran baru.

Kehadiran Eros dan Tanathos yang sangat kontras hadir terutama dalam karya Carine yang paling masif di pameran ini. Karya instalasi yang menampilkan objek phalus berwarna hitam di tengah lingkaran puluhan tengkorak putih berhiaskan bunga teratai ini dikomposisikan di ruang galeri utama dengan dilatarbelakangi tirai merah marun. Karya ini seolah merupakan titik ultimasi Carine dalam mengejawantahkan konsepsi Eros dan Tanathos dalam pameran ini. Phalus yang diletakkan tepat di tengah komposisi karya menjadi representasi hasrat yang diidamkan. Sedangkan tengkorak-tengkorak yang melingkarinya seolah menjadi pengingat bahwa dorongan kematian akan senantiasa hadir memutus rantai hasrat yang berangkaian sepanjang hidup manusia.

“Embodied”  sebagai judul pameran yang Carine pilih, bisa diartikan sebagai pengejawantahan (: embodiment) atau personifikasi konsepsi Eros dan Tanathos melalui karya-karyanya. Seni sendiri sebagai embodiment kebudayaan manusia menurut Marcuse bukanlah domain logos dan rasionalitas, dan justru merupakan salah satu pengajawantahan hasrat Eros (sensuousness) dalam tataran yang lebih tinggi:
“The basic experience in this dimension is sensuous rather than conceptual; the aesthetic perception is essentially intuition, not notion… it is by virtue of its intrinsic relation to sensuousness that the aesthetic function assumes its central position. The aesthetic perception is accompanied by pleasure.”[v]   

“Embodied” dengan demikian dapat dimaknai juga sebagai pengejawantahan hasrat-hasrat seorang Carine saat ia mahsyuk dalam penjelajahan artistik dan estetiknya dalam berkarya. Sapuan pigmen yang ekspresif dan penuh daya hidup dalam lukisan-lukisan Carine adalah salah satu bukti betapa ia mengutamakan sensuousness kala berkarya. Penggunaan throwel berukuran besar alih-alih kuas, menunjukkan bahwa Carine meletakkan aspek emosi dan ekspresi sebagai bagian penting dalam berkarya. Carine juga tampaknya menggunakan throwel ini sebagai penanda maskulinitas, karena sapuan cat yang dihasilkan pun tampak tegas dan jauh dari keraguan. Selain itu, sebagai aktivitas yang telah lama Carine geluti, melukis agaknya menjadi sebuah upaya “pelepasan” atau eksternalisasi  dari dalam hatinya.Karenanya Carine tak terlampau acuh dengan sejarah dan wacana mengenai seni lukis sebagai sebuah diskursus. Bisa jadi ia lebih mengutamakan fungsi katarsis melukis daripada bersusah payah menjelajahi historisitas dan ontologi si seni lukis itu sendiri.

Selain tak terlampau acuh dengan persoalan historisitas medium, Carine juga tak terlampau tertarik dengan pewacanaan karya seni yang biasanya menyoroti isu-isu besar. Hal ini bisa dilihat dari sikap  tak acuh Carine terhadap isu feminisme. Padahal akan sangat mudah mengkorelasikan strategi berkarya Carine dengan persoalan gender. Alih-alih berperan sebagai kontingen kebudayaan yang kritis terhadap kondisi bias antara maskulinitas dan femininitas, Carine justru tak terlampau ambil peduli dan lebih memfokuskan diri terhadap penelusuran estetis dirinya dalam menanggapi konsepsi Eros dan Tanathos. Namun demikian, melalui pengoperasian simbol phalus, Carine—disadari atau tidak—sedikit banyak berhasil mengukuhkan otonomi perempuan sebagai subjek aktif saat menghadapi suatu objek hasrat (desirable object). Phalus di tangan Carine menjadi oposan bagi logika penis envy Freudian, karena ia hadir justru sebagai objek yang memicu impuls Eros dalam diri Carine sebagai subjek yang menghendaki—alih-alih objek yang cemburu terhadap subjektivitas lelaki seperti yang seringkali dicetuskan dalam psikoanalisa Freudian. Karena itu imaji-imaji phalus yang hadir dalam karya-karya Carine pun tampak sublim dan dipenuhi aura feminin, karena seperti demikianlah Carine memaknai objek hasratnya tersebut. Karena itu meskipun Carine secara sadar tak menjadikan karyanya sebagai teks yang berpihak pada isu feminisme, namun secara otomatis karya-karyanya menjadi cukup penting bagi wacana feminisme. Karena Carine hadir sebagai model ideal sebagai perempuan yang berkuasa penuh terhadap subjektivitas dirinya sendiri.

Di luar kesemua isu yang mungkin lekat secara langsung dan tak langsung, karya-karya Carine  menghadirkan angin segar dalam aktivitas seni rupa Indonesia belakangan. Ada semacam semangat romantisme gaya baru sekaligus optimisme dalam memandang kehidupan secara generik. Padahal jika kita tengok lagi simbol-simbol yang Carine usung lebih sering kita kenal sebagai ikon pesimisme dan nihilisme. Ini, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Carine berkesenian dalam tataran personal, justru menyadarkan  kita bahwa kehidupan yang sublim dan membebaskan, dapat terbentuk melalui sikap bersahabat dan kompromis terhadap berbagai substansi kehidupan; baik yang dianggap positif maupun negatif.

Asmudjo Jono Irianto
Dinni Tresnadewi Nurfallah

[1] Kontraposisi antara Logos dan Eros di sini terutama didasarkan secara longgar pada teori Carl Jung dalam “Aspect of the Feminine”.

[i] Herbert Marcuse, Eros and Civilization: A Philosophicaal Inquiry into Freud (Boston: Beacon Press, 1966), 11.
[ii] Marcuse, 222.
[iii] Marcuse, 224.
[iv] Marcuse, 231.
[v] Marcuse, 176.